Bagaimana sejarah penyebutan alat vital lelaki disebut sebagai burung? Mengapa tidak seperti perempuan yang memiliki istilah yang tidak ambigu? Pertanyaan seperti itu kadang mengganggu pikiran, tapi itu hanyalah angin lalu. Pikiran pikiran aneh yang kadang lewat begitu saja dalam otak kita, tanpa tahu sebabnya. Mengapa namanya burung, kenapa tidak diganti dengan hewan lain, semisal cicak atau buaya. Apakah karena mempunyai telur lantas disebut burung? Apakah karena mempunyai rambut lantas disebut burung? Pertanyaan seperti ini sering diobrolkan dalam percakapan warung kopi, tapi tak pernah melalui diskursus serius para peneliti kampus. Memanbg, kalau soal burung, baiknya dibicarakan didalam sangkar saja. Jangan sampai si burung tahu. Atau sebenarnya, si burung tahu bahwa dia sedang dibicarakan?
Dulu agen galonan, sekarang tukang baca komik harian