Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Manu(K)sia, Edisi Burung

Bagaimana sejarah penyebutan alat vital lelaki disebut sebagai burung? Mengapa tidak seperti perempuan yang memiliki istilah yang tidak ambigu? Pertanyaan seperti itu kadang mengganggu pikiran, tapi itu hanyalah angin lalu. Pikiran pikiran aneh yang kadang lewat begitu saja dalam otak kita, tanpa tahu sebabnya. Mengapa namanya burung, kenapa tidak diganti dengan hewan lain, semisal cicak atau buaya. Apakah karena mempunyai telur lantas disebut burung? Apakah karena mempunyai rambut lantas disebut burung? Pertanyaan seperti ini sering diobrolkan dalam percakapan warung kopi, tapi tak pernah melalui diskursus serius para peneliti kampus. Memanbg, kalau soal burung, baiknya dibicarakan didalam sangkar saja. Jangan sampai si burung tahu. Atau sebenarnya, si burung tahu bahwa dia sedang dibicarakan?

Manu(K)sia

Bagaimana menjadi manusia yang memanusiakan manusia? Apakah cukup hanya dengan bersifat baik kepada sesama? Apakah tuntas hanya dengan berbaik sangka kepada tetangga? Apakah selesai hanya dengan bersifat bijaksana? Pertanyaan yang menggantung seperti diatas seringkali mengganggu pikiran. Bagaimana bisa, manusia yang seharusnya (dalam pandangan saya) saling berbuat baik, seringkali berkelahi sendiri. Dunia pasti sedang berkabung, melihat sesama manuksia dan manuksia saling menyayangi. Apakah manuk dia sudah tidak suka lagi punya sarang burung? Para penyuka manuk yang sudah tidak suka dengan sarang burung, beranggapan bahwa cinta kepad sesama manuk adalah fitrah mereka, dan cinta mereka kepada sangkar burung sudah tidak tersisa. Apakah para manuksia ini bisa melanjutkan rasa cinta mereka, sedangkan mereka sudah paham bahwa mereka tidak lagi mempunyai generasi tersisa untuk menyebarkan rasa suka mereka kepada sesama. Atau, semua ini hanya angan saja?