Langsung ke konten utama

Postingan

Baudrillard's Yard, Menuju Kebun Konsumerisme

    Dalam dunia yang serba konsumtif, segala barang adalah komoditas yang mempunyai nilai. Konsumsi pun tak melulu berkaitan dengan sandang pangan, melainkan hiburan dan permainan. Di tengah maraknya sosial media dan persona (influencer), semua orang berlomba untuk merebut perhatian para pengguna untuk mengkonsumsi konten mereka. Sosial media menjadi ladang bagi para petani konten, untuk disalurkan kepada para pembeli.   Masyarakat konsumtif inilah yang menjadikan media sosial hidup. Sebagai produk, masyarakat konsumtif menghidupi para pembuat konten. Produksi demi produksi digalakkan demi menggaet atensi dan minat. Segala jenis hiburan diproduksi, mulai dari cerita lucu, cerita sedih, bahkan cara membuat cerita disediakan bagi para penikmatnya. Tentu tak semuanya buruk, namun konsumsi yang berlebihan menjadikan segalanya menjadi tak relevan. Demi menjadi relevan, kita menjadikan perilaku konsumsi sebagai hal yang biasa. Mengikuti algoritma dari berbagai media. FY...
Postingan terbaru

Cirque du Soleil dan Siklus Wong Mbulet

  Cirque du Soleil adalah ke-mbulet-an at it 's finest .  Orkestrasi dan pertunjukan yang ditampilkan cirque du soleil adalah bentuk nyata bahwa banyak orang mbulet di dunia ini . namun , bagaimana sebenarnya mbulet itu ? apakah orang tersebut bentuknya bulat ? Apakah orang tersebut suka melilit tali ?  bukan itu buoss.     Mbulet disini diartikan orang yang tidak teguh pendirian , orang yang mengikuti kata orang lain , dan menjadikan diri mereka dihindari banyak orang . Tentu banyak sekali orang yang masuk kategori ini , mengingat zaman internet adalah waktu tampilnya banyak orang mbulet . Tapi , mengapa banyak orang cenderung menghindari dan tidak mau berurusan dengan orang mbulet ?      Dalam prakteknya , orang mbulet didefinisikan sebagai kategori manusia yang susah diatur , susah diajak kerjasama , dan menyusahkan ketika diajak bicara . Kadang bukan karena indra dan fisik mereka yang tidak normal , orang mbulet justru perawakan dan indra yang...

Scrollytelling : Bercerita Melalui Untaian Berita

Kian mudahnya akses informasi dan berita menjadikan dunia sesak penuh acara. Berbagai informasi diberikan, bermacam data ditampilkan, beraneka ragam konten disediakan demi memenuhi dahaga para pengguna dunia maya. Banyaknya informasi yang tersedia tidak menjadikan informasi yang tersedia berguna untuk kita. Tak semua informasi harus diceritakan, tak segala data harus dibacakan lantang. Pemilihan informasi yang sesuai kebutuhan dan tepat guna, menjadi kunci bagi kita dalam menjelajah dunia maya. Ketika informasi sudah diterima, tinggal pilihan bagi kita untuk mengelola informasi yang didapat. Disinilah Scrollytelling berperan untuk merangkai informasi yang sudah kita dapat. Namun, apa sebenarnya scrollytelling itu? Scrollytelling adalah salah satu kata yang saya dapat dari artikel Shorthand . Artikel tersebut menjelaskan secara gamblang tentang peran scroll(guliran) untuk menarik dan membuat informasi yang disediakan lebih menarik. Di media sosial yang membiasakan diri untuk...

Matinya Persona, Maraknya Tebar Pesona; Curhatan Mengenai Hubungan Dunia Maya

Barangkali tak ada yang lebih aneh dari sebuah pertemuan dua orang dalam dunia virtual. Dunia dimana semua bisa menjadi apa saja. Menjadi laki-laki gagah, perempuan stylish, kucing anggora, penegak kamus bahasa, sampai waria karir pun bisa dilakukan. Tak terkecuali dalam kenya (kencan dunia maya). Berbagai aplikasi getol menggelorakan semangat mencari jodoh.  Namun dalam prakteknya, semakin banyak aplikasi kencan yang dipasang, semakin banyak pilihan yang membingungkan. Dari situlah, muncul berbagai masalah, diantaranya overchoice, date swindler dan meningkatnya insecurity. Banyaknya pilihan memunculkan ilusi bahwa kita memiliki pilihan, padahal tidak. Algoritma aplikasi kencan menjadikan pilihan swipe kanan kiri sebagai komoditas mencari uang semata. Jumlah laki laki dan perempuan pun tidak sepadan dalam dunia kencan maya ini. Saya lihat lebih banyak laki laki yang menggunakan aplikasi ini ketimbang perempuan. Dunia kencan maya juga menjadikan banyak masalah baru, sepe...

The Doom's Scroll : Social Media Effect

    Seringkali kamu menggulirkan media sosial tanpa kamu sadari dan pahami, itulah tanda tanda bahwa kamu sedang kena penyakit doomscrolling. Penyakit ini ditandai dengan perilaku "mindlessly scrolling media without thinking".    Di dunia dimana informasi begitu mudah diakses, segala informasi menjadi tidak berarti. Di suatu sisi kamu melihat konten tentang pembantaian rakyat palestina di gaza, menggulir sedikit kamu dapat informasi tentang kucing lucu, menggeser sedikit kamu dapat informasi tentang video edukasi. Ya, begitulah dunia informasi berkembang saat ini. Algoritma yang menyenangkan diri agar kamu bertahan di aplikasi. Tak peduli tentang informasi itu dipilah, tak diurusi konten yang harusnya dipilih. Kita semua cenderung seperti itu, dan para pengembang aplikasi tak peduli dengan konten itu. Yang terpenting bagi mereka adalah kita betah berlama-lama di aplikasi tersebut. Terserah kalian menjadi pembenci atau penyuka suatu jenis informasi, asal kalian disitu...

Long Time No See, my Blog

 Tak terasa, sudah lama sekali saya menyentuh blog ini. Rasa ingin menulis yang sudah lama terpendam, tak sekalipun dapat memberontakkan diri untuk menolak. Setelah melalui proses survey attachment style, dan baru saya ketahui, ternyata saya adalah seorang fearful avoidant. Saya adalah seorang yang cenderung menghindari permasalahan, dan takut bila melakukan kesalahan.  Kedua sifat tersebut, menurut hemat saya, adalah bagian yang menjadi persoalan pelik bagi saya. Jikalau para oportunis mengambil kesempatan besar untuk menyerobot, barang tentu kesempatan tersebut akan saya berikan. Sejauh yang saya amati, personalitas dan karakter yang saya miliki, terasa sangat berbeda dibanding masa lalu. Saya seperti seorang anak yang kehilangan rasa percaya diri dan jati diri. Hal inilah yang menurut saya menjadi problem, dan seharusnya segera untuk diatasi. Kepribadian, laiknya suatu hal yang melekat dalam diri. Bagaikan lem, tentu saja kepribadian bisa ditata, dibentuk, maupun dihapuskan...

Manu(K)sia, Edisi Burung

Bagaimana sejarah penyebutan alat vital lelaki disebut sebagai burung? Mengapa tidak seperti perempuan yang memiliki istilah yang tidak ambigu? Pertanyaan seperti itu kadang mengganggu pikiran, tapi itu hanyalah angin lalu. Pikiran pikiran aneh yang kadang lewat begitu saja dalam otak kita, tanpa tahu sebabnya. Mengapa namanya burung, kenapa tidak diganti dengan hewan lain, semisal cicak atau buaya. Apakah karena mempunyai telur lantas disebut burung? Apakah karena mempunyai rambut lantas disebut burung? Pertanyaan seperti ini sering diobrolkan dalam percakapan warung kopi, tapi tak pernah melalui diskursus serius para peneliti kampus. Memanbg, kalau soal burung, baiknya dibicarakan didalam sangkar saja. Jangan sampai si burung tahu. Atau sebenarnya, si burung tahu bahwa dia sedang dibicarakan?