Tak terasa, sudah lama sekali saya menyentuh blog ini. Rasa ingin menulis yang sudah lama terpendam, tak sekalipun dapat memberontakkan diri untuk menolak. Setelah melalui proses survey attachment style, dan baru saya ketahui, ternyata saya adalah seorang fearful avoidant. Saya adalah seorang yang cenderung menghindari permasalahan, dan takut bila melakukan kesalahan.
Kedua sifat tersebut, menurut hemat saya, adalah bagian yang menjadi persoalan pelik bagi saya. Jikalau para oportunis mengambil kesempatan besar untuk menyerobot, barang tentu kesempatan tersebut akan saya berikan. Sejauh yang saya amati, personalitas dan karakter yang saya miliki, terasa sangat berbeda dibanding masa lalu. Saya seperti seorang anak yang kehilangan rasa percaya diri dan jati diri. Hal inilah yang menurut saya menjadi problem, dan seharusnya segera untuk diatasi.
Kepribadian, laiknya suatu hal yang melekat dalam diri. Bagaikan lem, tentu saja kepribadian bisa ditata, dibentuk, maupun dihapuskan dengan air perubahan. Sebagai perekat dan pengenal diri, kepribadian adalah suatu bentuk personifikasi dan kumulasi berbagai pengalaman diri. Tak hanya itu, kepribadian adalah cerminan nilai yang dipegang, dari apa yang dilihat, di dengar, serta dijadikan pedoman.
Setelah melalui sedikit penjelasan dan keterusterangan untuk mengatakan kekurangan diri pada orang lain, akhirnya dapat dipahami bahwa fearful avoidant ini akan menjadi secure, bila ada kemauan dan kemampuan untuk merubah diri. Hal ini, mengingatkan saya pada pepatah lama yang saya pegang teguh waktu MAN. "Motivate yourself, no one will motivate you if you're not willing to motivate yourself". Sudah menjadi keharusan bagi diri ini untuk menjadi versi lebih baik, dengan update diri dengan aplikasi kepribadian, menata diri untuk lebih adaptif menghadapi personalia lain.
Sesuai namanya, dan sesuai kondisi saat ini, perlu niat kuat serta tekat bulat, agar diri ini mampu menjadi lebih baik. Tak cuma itu, diri ini perlu adaptif terhadap perubahan yang terjadi. Meminjam istilah dari blog Wait But Why, rasa procrastinate yang dikendalikan oleh kera nafsu, harus diambil alih oleh nahkoda pola pikir rasional. Diri ini perlu menjadi leader dan kalau perlu diktator, untuk menjadi persona ideal. Tak perlu ideal seperti kebanyakan pakar, melainkan ideal di mata sendiri.
Sesuai sabda mas Jemblung, "Ndang sat set", kalimat sederhana yang terasa sangat berat saya rasakan. Sebagai penunda ulung, kalimat sat set asing sekali di kehidupan saya. Menjadi sat set akan menjadikan seorang plegmatis seperti saya tidak menikmati kehidupan santai, jauh dari masalah, serta membuat saya bahagia. ditambah combo fearful avoidant, seorang plegmatis akan mendapati masalah ganda apabila dia dihadapkan pada keputusan yang harus diambil secara cepat. "Makane kui, sadaro cokkk. Tobatttt" (Ucap Arham kepada Syahlala).
Tanpa saya sadari perubahan nama panggilan pun menjadikan saya sebagai persona yang berbeda. Lala adalah sikecil yang hidup dekat dengan orang tua, menjalani kehidupan normal anak biasa sejak sekolah TK sampai Kuliah semester 2. Lala adalah si paling normal, yang tiap perkenalan selalu dicekoki guyonan basi teletabis. dan anehnya, si Lala tidak merasa bahwa laki-laki yang dipanggil Lala aneh. Betapa anehnya, pikir si Arham. Sebagai persona baru dari orang yang sama, Arham malah lebih aneh lagi. Nama panggilan yang seharusnya menjadi identitasnya sejak kecil, justru baru muncul di musim pergolakannya kuliah. Arham si paling persona ini ingin menjadikan dirinya menjauhi si Lala, dengan mengikuti berbagai ritual aneh di kampus. Arham menjadikan persona baru(padahal sama) menjadi lebih dewasa(padahal macak), tak tanggung-tanggung, memanjangkan rambut. Hal yang sudah tak populer kala itu, alias koen iku telat kerenmu Ham!.
Menjalani kepribadian dengan nama panggilan yang berbeda, ternyata tak mengubah pandangan orang lain. Orang yang sejak lama kenal dengan Lala, tentu akan asing dengan persona Arham. Si Lala yang sejak kecil sama SD nangis dicengin perempuan, berubah menjadi Arham si gondes (gondrong bedes) bercelana dengkul bolong. Lala si paling cupu bercelana kain dan baju rapi, bertransformasi menjadi Arham kaos oblong bali, dengan rambut ikat belum mandi.
Dengan beberapa transformasi itu, harusnya si Arham dan si Lala sudah sadar akan apa yang sebenarnya harus mereka lakukan. Dengan Attachment test fearful avoidant, sifat plegmatis, serta kepribadian Myers yang bukan INTJ, ENFP, melainkan PDIP, harus diubah. Kalo fearful, harus jangan takut, kalo avoidant, jangan menghindar dari masalah, sesimpel itu. Persona Arham Syahlala sudah mampu berubah panggilan dari Lala ke Arham, merubah penampilan 100 derajat (ben ketok mendidih), mengatasi kepribadian santai menjadi agak sat set, bukan hal yang tidak mungkin.
Begitulah hidup. Kadangkala kamu dihadapkan dengan sesuatu yang bisa kamu hadapi, terkadang kamu menghadapi masalah dengan tenang, padahal orang lain sangat bingung. Semuanya memiliki porsi yang berbeda, bahkan porsi orang makan saja beda!.
Setelah rant dan sedikit curhat ini tercapai, mari kita akhiri dengan ucapan, Semangat sampek Semaput!!. Untuk Arham Syahlala, kamu sudah melakukan yang terbaik, namun ada hal lebih baik yang bisa kamu lakukan untuk dirimu. Untuk Arham dan Lala, meski kalian adalah personifikasi dari orang yang sama, jangan sampai hal ini menjadikan ini sebagai alasan untuk malas berubah. Semuanya akan berubah, seperti pepatah "People's changes, everything changes. But you know what's the thing that never changes? Its George Benson song, Nothing' Gonna Change My Love on You". Sekian dan terima sumbangan untuk anak yatim dan membutuhkan. Cheers, see you on top (seperti kata penyemangat influencer di ig untuk sesamanya)
Komentar
Posting Komentar