Dalam dunia yang serba konsumtif, segala barang adalah komoditas yang mempunyai nilai. Konsumsi pun tak melulu berkaitan dengan sandang pangan, melainkan hiburan dan permainan. Di tengah maraknya sosial media dan persona (influencer), semua orang berlomba untuk merebut perhatian para pengguna untuk mengkonsumsi konten mereka. Sosial media menjadi ladang bagi para petani konten, untuk disalurkan kepada para pembeli.
Masyarakat konsumtif inilah yang menjadikan media sosial hidup. Sebagai produk, masyarakat konsumtif menghidupi para pembuat konten. Produksi demi produksi digalakkan demi menggaet atensi dan minat. Segala jenis hiburan diproduksi, mulai dari cerita lucu, cerita sedih, bahkan cara membuat cerita disediakan bagi para penikmatnya. Tentu tak semuanya buruk, namun konsumsi yang berlebihan menjadikan segalanya menjadi tak relevan.
Demi menjadi relevan, kita menjadikan perilaku konsumsi sebagai hal yang biasa. Mengikuti algoritma dari berbagai media. FYP, Beranda, Reels, hingga Threads menghinggapi pikiran kita sehari penuh. Semakin jauh, semakin kita menginginkan hiburan itu untuk tinggal di pikiran kita.
Konsepsi ini, yang saya hubungkan dengan teori baudrillard tentang konsumsi, saya kira relevan dengan kondisi saat ini. Baudrillard menyebut tentang bagaimana masyarakat konsumsi kini telah menjadi masyarakat yang dominan saat ini.
Komentar
Posting Komentar