Langsung ke konten utama

Jean Baudrillard dan Era Masyarakat Konsumsi


Jean Baudrillard adalah salah seorang filsuf posmodernisme asal Prancis. Beliau merupakan salah seorang Filsuf yang getol emmperjuangkan Posmodernisme di era sekarang ini. Era posmodernisme adalah era dimana sesuatu tak selalu linier. Era dimana sesuatu tak terlihat sama. Era dimana semuanya bisa dimanipulasi. Era dimana kita tidak tahu bagaimana kita bisa begini.
Jean Baudrillard mendefinisikan posmodern sebagai sebuah tatana hidup baru setelah modernisme. Baudrillard mengatakan bahwa era modernisme tidak mampu mencapai tujuan dan cita-citanya sendiri. Modernisme sebagai parameter kesuksesan orang zaman dahulu ternyata sekarang sudah tidak relevan bila digunakan pada zaman sekarang. Sekarang adalah zaman dimana kita harus menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.
Baudrillard mendefinisikan masyarakat sekarang sebagai masyarakat konsumsi. Masyarakat konsumsi adalah masyarakat yang lebih mementingkan nilai tukar (Ex-change value) daripada nilai guna(Use Value). Nilai tukar adalah nilai yang menentukan tingkat strata sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai tukar ini ada dikarenakan timbulnya berbagai macam jenis produksi dan berbagai macam hasil produksi masyarakat. Produksi yang bervariasi juga disebabkan karena berbagai macam permintaan serta tuntutan para konsumen yang menuntut adanya inovasi.
 Adanya prinsip nilai guna dan nilai tukar ini dipengaruhi juga oleh kekayaan dan banyaknya dana yang dimiliki oleh para pengusaha dan konglomerat borjuis serta para buruh proletariat yang bekerja keras. Salah satu contoh nilai tukar ialah bagaimana kita lebih memilih BMW daripada Mobil carry misalnya, padahal kedua barang tersebut mempunyai nilai guna yang sama. Nilai tukar prestise dari BMW lebih bagus dibanding nilai tukar prestise yang dimiliki oleh mobil Carry.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Scrollytelling : Bercerita Melalui Untaian Berita

Kian mudahnya akses informasi dan berita menjadikan dunia sesak penuh acara. Berbagai informasi diberikan, bermacam data ditampilkan, beraneka ragam konten disediakan demi memenuhi dahaga para pengguna dunia maya. Banyaknya informasi yang tersedia tidak menjadikan informasi yang tersedia berguna untuk kita. Tak semua informasi harus diceritakan, tak segala data harus dibacakan lantang. Pemilihan informasi yang sesuai kebutuhan dan tepat guna, menjadi kunci bagi kita dalam menjelajah dunia maya. Ketika informasi sudah diterima, tinggal pilihan bagi kita untuk mengelola informasi yang didapat. Disinilah Scrollytelling berperan untuk merangkai informasi yang sudah kita dapat. Namun, apa sebenarnya scrollytelling itu? Scrollytelling adalah salah satu kata yang saya dapat dari artikel Shorthand . Artikel tersebut menjelaskan secara gamblang tentang peran scroll(guliran) untuk menarik dan membuat informasi yang disediakan lebih menarik. Di media sosial yang membiasakan diri untuk...

Long Time No See, my Blog

 Tak terasa, sudah lama sekali saya menyentuh blog ini. Rasa ingin menulis yang sudah lama terpendam, tak sekalipun dapat memberontakkan diri untuk menolak. Setelah melalui proses survey attachment style, dan baru saya ketahui, ternyata saya adalah seorang fearful avoidant. Saya adalah seorang yang cenderung menghindari permasalahan, dan takut bila melakukan kesalahan.  Kedua sifat tersebut, menurut hemat saya, adalah bagian yang menjadi persoalan pelik bagi saya. Jikalau para oportunis mengambil kesempatan besar untuk menyerobot, barang tentu kesempatan tersebut akan saya berikan. Sejauh yang saya amati, personalitas dan karakter yang saya miliki, terasa sangat berbeda dibanding masa lalu. Saya seperti seorang anak yang kehilangan rasa percaya diri dan jati diri. Hal inilah yang menurut saya menjadi problem, dan seharusnya segera untuk diatasi. Kepribadian, laiknya suatu hal yang melekat dalam diri. Bagaikan lem, tentu saja kepribadian bisa ditata, dibentuk, maupun dihapuskan...

Matinya Persona, Maraknya Tebar Pesona; Curhatan Mengenai Hubungan Dunia Maya

Barangkali tak ada yang lebih aneh dari sebuah pertemuan dua orang dalam dunia virtual. Dunia dimana semua bisa menjadi apa saja. Menjadi laki-laki gagah, perempuan stylish, kucing anggora, penegak kamus bahasa, sampai waria karir pun bisa dilakukan. Tak terkecuali dalam kenya (kencan dunia maya). Berbagai aplikasi getol menggelorakan semangat mencari jodoh.  Namun dalam prakteknya, semakin banyak aplikasi kencan yang dipasang, semakin banyak pilihan yang membingungkan. Dari situlah, muncul berbagai masalah, diantaranya overchoice, date swindler dan meningkatnya insecurity. Banyaknya pilihan memunculkan ilusi bahwa kita memiliki pilihan, padahal tidak. Algoritma aplikasi kencan menjadikan pilihan swipe kanan kiri sebagai komoditas mencari uang semata. Jumlah laki laki dan perempuan pun tidak sepadan dalam dunia kencan maya ini. Saya lihat lebih banyak laki laki yang menggunakan aplikasi ini ketimbang perempuan. Dunia kencan maya juga menjadikan banyak masalah baru, sepe...