Langsung ke konten utama

The Doom's Scroll : Social Media Effect

 

Spyral Quik-Fix
 

Seringkali kamu menggulirkan media sosial tanpa kamu sadari dan pahami, itulah tanda tanda bahwa kamu sedang kena penyakit doomscrolling. Penyakit ini ditandai dengan perilaku "mindlessly scrolling media without thinking". 

 

Di dunia dimana informasi begitu mudah diakses, segala informasi menjadi tidak berarti. Di suatu sisi kamu melihat konten tentang pembantaian rakyat palestina di gaza, menggulir sedikit kamu dapat informasi tentang kucing lucu, menggeser sedikit kamu dapat informasi tentang video edukasi. Ya, begitulah dunia informasi berkembang saat ini. Algoritma yang menyenangkan diri agar kamu bertahan di aplikasi. Tak peduli tentang informasi itu dipilah, tak diurusi konten yang harusnya dipilih. Kita semua cenderung seperti itu, dan para pengembang aplikasi tak peduli dengan konten itu. Yang terpenting bagi mereka adalah kita betah berlama-lama di aplikasi tersebut. Terserah kalian menjadi pembenci atau penyuka suatu jenis informasi, asal kalian disitu, hal tersebut sudah mendatangkan keuntungan bagi pengembang aplikasi. 

 

Coba lihat bagaimana algoritma tiktok bekerja. Dunia dimana FYP adalah keunggulan, semua orang mencoba berebut atensi pengguna. Kita semua dijejali beragam informasi yang menumpuk. Tak peduli dengan kebutuhan dan kepentingan informasi, kita semua diajak  untuk melihat konten yang menyenangkan diri sendiri. Jikalau tak pintar dalam memilah informasi, diri sendiri akan tenggelam dan larut dalam utopia informasi. Berbagai macam tajuk dibuat, mulai big data, machine learning, artificial intelligence, digunakan untuk menjadi alat pembantu menganalisisa kebutuhan manusia dalam menganalisa informasi.


Sudah mesti, dari sekian banyak kebutuhan manusia akan algoritma, yang terpenting adalah kebutuhan untuk mencuankan diri. Pengembang aplikasi saling berlari merebut lahan basah atensi para penikmat gawai dan aplikasi. Berbagai macam fitur dibuat, beraneka konten disediakan, serba serbi influencer diundang demi memenuhi hasrat pengguna yang tak terbatas. Hal ini menjadikan media sosial sebagai bus yang berjalan ke segala jurusan. Supir bus algoritma selalu mengikuti keinginan penumpang, kemanapun mereka pergi dan mereka mau. Para kondektur kreator bertumpah ruah mengarahkan penumpang untuk mencintai informasi yang mereka miliki. Tak lupa jua para pengamen atensi mengalihkan sejenak para penumpang dari sesaknya informasi yang diberikan, menyadarkan mereka.

 

Dari itu semua, muncul pertanyaan, siapa yang paling dapat keuntungan dari semua ini? apakah pengguna, pengembang aplikasi, atau malah influencer sendiri?. 

 

Para pengguna mendapatkan informasi secara percuma, hanya berbekal scrolling semata. Informasi yang didapat pun bergantung pada algoritma dan kecerdasan mereka untuk mencari informasi. Jika hanya mengandalkan algoritma dan pasrah semata, algoritma akan menjejali pikiran pengguna dengan konten yang tiada faedahnya. Pengguna pun dituntut untuk jeli dan mampu memilah informasi yang diberikan algoritma. Saya kira pengguna lah yang punya beban paling berat dalam situasi ini. Pemilihan konten kreator yang sesuai, pemilihan informasi yang non misinformasi, sangat sulit dilakukan. Tanpa kemampuan dan pemilihan informasi, para pengguna bagaikan domba yang digiring kesana kemari, mengikuti aplikasi. 

 

Di tempat lain, para kreator berlomba agar informasi yang mereka ciptakan dapat dikenal algoritma, dan menyentuh para pengguna. Para kreator inilah air yang mengisi sumur aplikasi. Ada kreator air putih, kreator air susu, kreator air kopi, ada juga kreator air comberan. Tak semua kreator setara, dan tak semua pengguna dapat memilah air mana yang mereka butuhkan. Menjadikan dua hal ini berimbang bukan hal yang mudah, namun bukan berarti hal ini tidak dapat dilakukan. 

 

Yang menjadi juara dalam kontestasi informasi adalah penyedia aplikasi. Tak peduli informasi apa yang diberikan kreator, tak peduli kepintaran dan kecerdasan pengguna, asalkan algoritma mereka menarik iklan dan investor, tak masalah buat mereka. Penyedia aplikasi adalah makelar yang melayani kebutuhan rakyat, tak peduli kebutuhan mereka seperti apa. Rakyat ingin hiburan kucing lucu, disediakan. Rakyat ingin masyarakat belajar berhitung dan berbahasa, sudah disiapkan. Rakyat ingin menari bersama, beres. Rakyat ingin berdebat dengan sesama rakyat, sudah dihadirkan. Si Raja aplikasi melihat dari kejauhan dan menganalisa kesenangan para rakyat.



Dari itu semua, kekalahan yang telak ada di tangan pengguna. Kesenangan dan pengetahuan informasi yang diberikan aplikasi adalah semu belaka. Sebagai pengguna, memiliki pilihan yang tak terbatas tidak menjadikan diri sebagai manusia merdeka, melainkan manusia yang merasa merdeka. Ketika merasa merdeka, pengguna merasa berkuasa, padahal kekuasaan tersebut hanyalah imaji semata. Sekian dan demikian.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Scrollytelling : Bercerita Melalui Untaian Berita

Kian mudahnya akses informasi dan berita menjadikan dunia sesak penuh acara. Berbagai informasi diberikan, bermacam data ditampilkan, beraneka ragam konten disediakan demi memenuhi dahaga para pengguna dunia maya. Banyaknya informasi yang tersedia tidak menjadikan informasi yang tersedia berguna untuk kita. Tak semua informasi harus diceritakan, tak segala data harus dibacakan lantang. Pemilihan informasi yang sesuai kebutuhan dan tepat guna, menjadi kunci bagi kita dalam menjelajah dunia maya. Ketika informasi sudah diterima, tinggal pilihan bagi kita untuk mengelola informasi yang didapat. Disinilah Scrollytelling berperan untuk merangkai informasi yang sudah kita dapat. Namun, apa sebenarnya scrollytelling itu? Scrollytelling adalah salah satu kata yang saya dapat dari artikel Shorthand . Artikel tersebut menjelaskan secara gamblang tentang peran scroll(guliran) untuk menarik dan membuat informasi yang disediakan lebih menarik. Di media sosial yang membiasakan diri untuk...

Long Time No See, my Blog

 Tak terasa, sudah lama sekali saya menyentuh blog ini. Rasa ingin menulis yang sudah lama terpendam, tak sekalipun dapat memberontakkan diri untuk menolak. Setelah melalui proses survey attachment style, dan baru saya ketahui, ternyata saya adalah seorang fearful avoidant. Saya adalah seorang yang cenderung menghindari permasalahan, dan takut bila melakukan kesalahan.  Kedua sifat tersebut, menurut hemat saya, adalah bagian yang menjadi persoalan pelik bagi saya. Jikalau para oportunis mengambil kesempatan besar untuk menyerobot, barang tentu kesempatan tersebut akan saya berikan. Sejauh yang saya amati, personalitas dan karakter yang saya miliki, terasa sangat berbeda dibanding masa lalu. Saya seperti seorang anak yang kehilangan rasa percaya diri dan jati diri. Hal inilah yang menurut saya menjadi problem, dan seharusnya segera untuk diatasi. Kepribadian, laiknya suatu hal yang melekat dalam diri. Bagaikan lem, tentu saja kepribadian bisa ditata, dibentuk, maupun dihapuskan...